Belakangan ini, publik diramaikan oleh diskusi terkait peluncuran sebuah buku yang mengaitkan nama seorang tokoh penguasa dengan ajaran Islam. Fenomena ini menjadi momentum penting bagi kita, khususnya di lingkungan pesantren, untuk kembali mengingat hakikat ajaran Islam yang murni.

Islam Tidak Bergantung pada Nama Figur
Dalam sejarah perjalanan Islam, kita mengenal tokoh-tokoh besar seperti Khalifah Umar bin al-Khaththab, Shalahuddin al-Ayyubi, hingga Muhammad al-Fatih. Meskipun peran dan kontribusi mereka sangat luar biasa bagi umat, Islam tidak pernah dinamai berdasarkan nama mereka.
Mengapa demikian? Sebab dalam akidah Islam, kebijakan atau perilaku manusia bukanlah standar kebenaran Islam, melainkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjadi standar untuk menilai perilaku manusia.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 3)
Meneladani Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah
Manusia—siapa pun dia dan apa pun jabatannya—bisa melakukan kekhilafan. Oleh karena itu, kita tidak boleh mendasarkan pemahaman agama pada figur personal, melainkan wajib merujuk kepada Rasulullah $SAW$ sebagai satu-satunya teladan utama (uswatun hasanah).
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Melalui pendidikan di pesantren, kita berikhtiar mendidik para santri agar senantiasa mencintai Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta menerapkan ajaran Islam secara utuh (kaffah) dalam kehidupan sehari-hari demi menggapai keberkahan dari Allah SWT.
2. Kabar Duka dan Doa untuk Saudara Kita di Palestina
Sari Warta:Mari Perkuat Doa dan Kepedulian untuk Umat Islam di Tanah Palestina.
Kondisi saudara-saudara seiman kita di Palestina, baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat, masih terus menguji rasa kemanusiaan dan persaudaraan kita. Laporan terbaru menunjukkan terus bertambahnya korban jiwa dan warga yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik dan pembatasan yang terjadi di sana.
Pentingnya Kepedulian Umat
Sebagai sesama Muslim, derita yang dialami warga Palestina adalah derita kita bersama. Rasullullah SAW mengajarkan bahwa umat Islam bagaikan satu tubuh. Ketika satu bagian merasa sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya.
Di tengah situasi penuh ujian ini, kita meyakini bahwa janji Allah SWT dan keadilan-Nya pasti akan tegak. Tanah Suci Al-Aqsa dan bumi Palestina akan kembali damai dalam naungan keberkahan Islam.
Imbauan untuk Keluarga Besar Pesantren MDQ
Kami mengajak segenap orang tua/wali santri dan seluruh keluarga besar Pesantren MDQ untuk:
- Pendidikan Kepedulian: Terus menanamkan rasa empati dan kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan global kepada para santri.
- Untaian Doa (Qunut Nazilah): Mendoakan keselamatan, ketabahan, dan perlindungan bagi saudara-saudara kita di Palestina dalam setiap ibadah kita.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga keimanan kita, meneguhkan langkah para santri dalam menuntut ilmu, serta melimpahkan kedamaian bagi umat Islam di seluruh dunia. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.
Leave a Reply